Cerita di Tanah Papua Chapter 1

Salam kenal buat semua

Nama saya Haposan Surlian Samosir


Sebenarnya cerita ini akan terdiri atas 5 chapter, karna ceritanya lumayan panjang. Semoga setiap orang yang membaca ini tertarik untuk mengerti maksud dari cerita yang sampaikan dari pengalaman hidup saya ini. Selamat membaca.


Berikut adalah perjalanan saya dari awal berangkat ke Kampung Ugo, Distrik Kombay, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua, untuk mengajar buta huruf hingga selesai proses mengajar buta huruf di sana.

Chapter 1

Saya berangkat pada tanggal 02 September 2018. Dari Samarinda saya mengendarai sepeda motor ke Balikpapan, dan dari Balikpapan saya terbang ke Merauke, transit di Makassar, dan tiba di Merauke tanggal 03 September 2018 pagi hari. Kemudian saya dan beberapa orang dari Jakarta (termasuk atasan saya) melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mobil menuju Kabupaten Boven Digoel selama sekitar 8 jam. Saat tiba di Kabupaten Boven Digoel kami ke Pastori GKI Sion untuk bertemu Pdt. Daniel Iha dan Pak Edi selaku Pimpinan Lapangan kami, kemudian kami menginap di Hotel Honai karena hari sudah malam. Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan menuju kampung yang kami tuju. Kami ada 3 orang yang bertugas di Kampung-kampung yang ada di Kabupaten Boven Digoel ini. Pertama kami menuju Kampung Gaguop tempat salah satu teman saya yang bertugas mengajar di sana (Amrin Wirabuana Tolage). Sebelum kami sampai di sana, kami harus melewati Kampung Kouh (Distrik Kouh), Kampung Manggelum (Distrik Manggelum dan bermalam selama 1 malam di sana), Kampung Bayanggop (Distrik Manggelum) untuk kunjungan lapangan, selanjutnya kami kembali ke Kampung Manggelum, baru kemudian kami melanjutkan perjalanan. Karna hari sudah mulai sore, akhirnya kami bermalam di pinggir kali. Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan dan tiba di Kampung Gaguop (Distrik Manggelum) dengan alat transportasi air (Viber). Di Kampung Gaguop kami juga bermalam karena kami tiba di sana sudah sore hari. Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan ke Kampung Burunggop (Distrik Manggelum) tempat teman saya yang satu lagi bertugas (Daniel Subyakto) dengan menggunakan Long Boat kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 4-5 jam karna kondisi air yang lumayan surut. Dan selama berjalan kaki itu kami merintis hutan karena tidak ada jalan sama sekali. Dan hutan yang kami lewati adalah hutan yang penuh dengan lintah. Dan akhirnya saat kami tiba di sana, kami juga bermalam di sana, kemudian keesokan harinya kami kembali ke Kampung Gaguop bersama tim dengan menggunakan perahu dayung. Kami bermalam lagi di Kampung Gaguop, baru keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan dengan viber menuju Kampung Ugo (Distrik Kombay) tempat saya bertugas mengajar buta huruf. Tetapi kami tidak bisa sampai di Kampung Ugo karena kondisi air surut. Akhirnya kami kembali ke Kampung Kouh (Distrik Kouh). Dari Kampung Kouh kami menuju Kampung Wanggemalo (Distrik Kombay) dengan menggunakan sepeda motor. Kami berangkat dari jam 17.00 WIT dan sebelum kami tiba di Kampung Wanggemalo, kami harus melewati beberapa kampung terlebih dahulu, yaitu Kampung Boma (Distrik Bomakia), kami tiba di sana sekitar jam 8 malam. Kami berhenti untuk mengisi bahan bakar kendaraan kami (sepeda motor). Kemudian kami melanjutkan perjalanan, kami melewati Kampung Uni (Distrik Bomakia) dan Kampung Dema (Distrik Kombay). Kami tiba di Kampung Dema sekitar jam 23.00 WIT. Akhirnya kami bermalam di Kampung Dema hingga esok hari. Kami Ibadah Raya di Kampung Dema, setelah selesai Ibadah, kami mengumpulkan anak-anak Sekolah Minggu untuk bernyanyi bersama dan mendengarkan cerita Alkitab sebentar, kemudian setelah selesai Pimpinan Lapangan saya mengadakan pertemuan dengan para Tutor yang ada di Kampung Dema ini, baru kemudian setelah selesai kami melanjutkan perjalanan ke Kampung Wanggemalo (Distrik Kombay).

Saat kami tiba di Kampung Wanggemalo, kami bertemu dengan Bapak Pambudi, yang sudah selesai bertugas mengajar di Kampung Wanggemalo. Baru keesokan harinya tim saya pulang ke Jakarta (Ibu Neila, Bapak Mulyawan, dan Bapak Riaman) termasuk Bapak Pambudi dan Pak Edi selaku Pimpinan Lapangan saya selama saya bertugas di Kampung Ugo nantinya. Saya tinggal di Kampung Wanggemalo selama sekitar hampir 2 Minggu karena menunggu konfirmasi keberangkatan ke Kampung Ugo. Selama hampir 2 Minggu di Kampung Wanggemalo, saya menghabiskan waktu saya mengajar di sekolah, dan sore harinya bermain bola volly bersama warga setempat. Setelah hampir 2 Minggu berlalu, Pimpinan Lapangan saya konfirmasi bahwa saya harus segera berangkat ke Kampung Ugo. Saya menuju ke Kampung Ugo berjalan kaki. Saya berangkat siang hari menjelang sore dan tiba di simpang 2 sekitar jam 6 sore. Seharusnya dari simpang 2, saya menggunakan kendaraan air (viber/long boat/speed) tetapi ada suatu kendala pada kendaraan yang harus menjemput saya. Akhirnya saya harus bermalam di hutan di simpang 2. Keesokan harinya saya masih menunggu jemputan saya, tetapi sampai jam 11.30 WIT Pimpinan Lapangan saya baru datang dan dengan berita yang kurang memuaskan yaitu bahwa kami harus berangkat dari simpang 2 ke Kampung Ugo berjalan kaki sekitar 5 jam karena alat transportasinya rusak. Akhirnya jam 12.00 WIT kami (Saya, Pak Edi (Pimpinan Lapangan), Joseph (anak warga Kampung Ugo), dan Imanuel (warga kampung lain yang membantu membawa barang) berjalan kaki ke Kampung Ugo dengan menyusuri hutan dan pinggiran kali dan tepat jam 17.00 WIT kami tiba di Kampung Ugo.

Jalan dari Pelabuhan Ugo menuju ke kampung


Tampilan dari rumah singgah ke Pelabuhan Ugo

Foto di depan Gereja GGRI Ugo

Foto dari atas pohon di Bukit dekat Balai Kampung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Evaluations Result for Students in Kampung Ugo, Distrik Kombay, Boven Digoel Regency

The Story in Papua - Chapter 2 (English Version)

The Story in Papua - Chapter 5 (English Version)