Edisi Hiburan dan Liburan 3
Selama di Chapter 4
Di Kampung Bayanggop, Distrik Manggelum, Kabupaten Boven Digoel, Papua.
Di kampung itu terdapat 1 air terjun. Jadi, pagi itu sambil beralasan menimba air untuk dimasak, kami (Saya, Daniel, Allo, Paulus, Kak Annette, dan Ischak - driver) pergi ke air terjun itu menggunakan viber (perahu 2 mesin 40 pk). Karna lokasi air terjun ini bukan di wilayah kampung, tapi di seberang kali digoel dan tidak dekat juga alias lumayan jauh, jadi harus pakai perahu. Setelah kami tiba di sana, kami tambatkan tali perahu, kemudian kami berjalan kaki masuk ke area air terjun kemudian mengisi seluruh jerigen/galon untuk dibawa pulang. Setelah semua galon terisi, kami memutuskan untuk mandi (dan tak lupa berfoto dan video) dengan gaya dan cara masing-masing. Kami menikmati indahnya pemandangan air terjun itu dan segarnya air yang tercurah dari atas bukit itu (sebenarnya gak terlalu menarik juga sih, tetapi karna dari semua kampung yang kami datangi gak ada tempat spesial lain, hanya hutan belantara, kampung, kali dengan buayanya, burung-burung, bunga, dll - itu adalah salah satu tempat yang menarik menurut kami). Setelah selesai mandi dan berfoto-foto serta video, kami pulang ke Kampung Bayanggop.
Di Kampung Gaguop, Distrik Manggelum, Kabupaten Boven Digoel, Papua.
Disela-sela kesibukan kami, ketika kami memerlukan air untuk masak, kami harus mendayung perahu dulu untuk mencari sumber air bersih. Kala itu, kami bertiga (Saya, Daniel, dan Amrin) pergi menimba air di tempat biasa Amrin menimba air. Kami mendayung perahu kami, lumayan jauh. Ketika kami tiba, saya perhatikan air itu mengalir dari suatu tempat. Karna rasa penasaran saya, saya ajak mereka berdua naik ke atas. Di sana pemandangannya biasa saja, tetapi rasa penasaran saya belum terpuaskan. Saya berjalan terus mengikuti sumber aliran air, jauh masuk kedalam hutan. Awalnya rekan saya mengatakan sudah cukup kita kembali saja (karna hari sudah mulai sore dan agak gelap didalam hutan). Tetapi saya masih penasaran dan belum puas dengan apa yang saya lihat. Jadi saya terus berjalan ke dalam. Sampai akhirnya kami menemukan suatu tempat yang cukup menarik perhatian kami. Suatu kolam dengan air mancurnya. Akhirnya rasa penasaran saya terpuaskan dengan menyaksikan tempat itu dan kami memutuskan untuk pulang dan esok hari harus kembali lagi dan mandi disana. Keesokan harinya, saya mengajak rekan-rekan yang lain untuk ikut ke kolam air mancur itu. Tetapi tidak semua bisa ikut, termasuk Amrin. Tetapi karna kami yang pergi ada 6 orang (Saya, Daniel, Allo, Paulus, Ischak - driver, dan 1 orang lagi lupa namanya - asisten driver) dan kami sekalian membawa ember besar untuk air masak, jerigen/galon-galon, dan piring-piring kotor untuk di cuci, akhirnya kami pergi naik viber (perahu 2 mesin 40 pk). Saat kami tiba disana, kami isi air masak ke ember dan jerigen/galon-galon yang kami bawa, kami cuci semua piring kotor, lalu kami masuk ke dalam hutan untuk ke kolam air mancur itu. Saat kami tiba di kolam air mancur itu, mereka juga begitu senang dan ingin segera masuk ke dalam kolam untuk mandi. Akhirnya, kami buka pakaian kami dan kami mulai masuk ke dalam kolam itu. Kami berfoto-foto, video, dan pastinya menikmati segarnya air di kolam air macur itu. Kolam itu tidak begitu kotor meskipun tidak terlalu dalam, karna berbatu-batu dan terus mengalir. Tanpa kami sadari hari sudah semakin sore dan gelap (karna didalam hutan jadi matahari juga tertutup pepohonan). Akhirnya kami pulang dengan perasaan yang cukup puas. Dan jalan yang kami masuki dari tempat pengambilan air didepan sampai ke kolam air mancur itu seperti gerbang berdinding. Dindingnya terbuat dari bebatuan dan lumayan menarik bagi saya. Jadi sepanjang perjalanan keluar dari area kolam, kami mencari-cari dinding yang menarik buat spot foto untuk berfoto-foto. Setelah tiba diluar, kami naik ke perahu dan kembali ke Kampung Gaguop. Keesokan harinya, karna kali banjir besar, Ibu Neila, Pak Edi, Daniel, dan Paulus berangkat ke Kampung Burunggop (Kunjungan sekaligus mengantarkan Daniel kembali ke tempat tugasnya) dengan menggunakan viber (perahu 2 mesin 40 pk). Siang menjelang sore, saya mengajak Amrin ke Kolam air mancur itu untuk mandi, karna sebelumnya dia tidak jadi ikut mandi disana (Sementara Pak Mulyawan stay di rumah, Allo dan Kak Annette ada kesibukan lain). Kami ambil perahu dayung, kami dayung menuju ke lokasi. Setelah dekat lokasi, ternyata tim dari Kampung Burunggop sudah kembali. Akhirnya kami mandi di kali digoel tepat dibawah tempat pengambilan air masak (tidak sempat masuk ke dalam hutan ke kolam air mancur) dan segera kembali ke Kampung Gaguop, karna kami harus melanjutkan perjalanan hari itu juga.
Di Kampung Bayanggop, Distrik Manggelum, Kabupaten Boven Digoel, Papua.
Di kampung itu terdapat 1 air terjun. Jadi, pagi itu sambil beralasan menimba air untuk dimasak, kami (Saya, Daniel, Allo, Paulus, Kak Annette, dan Ischak - driver) pergi ke air terjun itu menggunakan viber (perahu 2 mesin 40 pk). Karna lokasi air terjun ini bukan di wilayah kampung, tapi di seberang kali digoel dan tidak dekat juga alias lumayan jauh, jadi harus pakai perahu. Setelah kami tiba di sana, kami tambatkan tali perahu, kemudian kami berjalan kaki masuk ke area air terjun kemudian mengisi seluruh jerigen/galon untuk dibawa pulang. Setelah semua galon terisi, kami memutuskan untuk mandi (dan tak lupa berfoto dan video) dengan gaya dan cara masing-masing. Kami menikmati indahnya pemandangan air terjun itu dan segarnya air yang tercurah dari atas bukit itu (sebenarnya gak terlalu menarik juga sih, tetapi karna dari semua kampung yang kami datangi gak ada tempat spesial lain, hanya hutan belantara, kampung, kali dengan buayanya, burung-burung, bunga, dll - itu adalah salah satu tempat yang menarik menurut kami). Setelah selesai mandi dan berfoto-foto serta video, kami pulang ke Kampung Bayanggop.
Air Terjun di Kampung Bayanggop
Tim PBA bersama Kak Annette (Tim Audit) yang pergi ke Air Terjun di Kampung Bayanggop
Di Kampung Gaguop, Distrik Manggelum, Kabupaten Boven Digoel, Papua.
Disela-sela kesibukan kami, ketika kami memerlukan air untuk masak, kami harus mendayung perahu dulu untuk mencari sumber air bersih. Kala itu, kami bertiga (Saya, Daniel, dan Amrin) pergi menimba air di tempat biasa Amrin menimba air. Kami mendayung perahu kami, lumayan jauh. Ketika kami tiba, saya perhatikan air itu mengalir dari suatu tempat. Karna rasa penasaran saya, saya ajak mereka berdua naik ke atas. Di sana pemandangannya biasa saja, tetapi rasa penasaran saya belum terpuaskan. Saya berjalan terus mengikuti sumber aliran air, jauh masuk kedalam hutan. Awalnya rekan saya mengatakan sudah cukup kita kembali saja (karna hari sudah mulai sore dan agak gelap didalam hutan). Tetapi saya masih penasaran dan belum puas dengan apa yang saya lihat. Jadi saya terus berjalan ke dalam. Sampai akhirnya kami menemukan suatu tempat yang cukup menarik perhatian kami. Suatu kolam dengan air mancurnya. Akhirnya rasa penasaran saya terpuaskan dengan menyaksikan tempat itu dan kami memutuskan untuk pulang dan esok hari harus kembali lagi dan mandi disana. Keesokan harinya, saya mengajak rekan-rekan yang lain untuk ikut ke kolam air mancur itu. Tetapi tidak semua bisa ikut, termasuk Amrin. Tetapi karna kami yang pergi ada 6 orang (Saya, Daniel, Allo, Paulus, Ischak - driver, dan 1 orang lagi lupa namanya - asisten driver) dan kami sekalian membawa ember besar untuk air masak, jerigen/galon-galon, dan piring-piring kotor untuk di cuci, akhirnya kami pergi naik viber (perahu 2 mesin 40 pk). Saat kami tiba disana, kami isi air masak ke ember dan jerigen/galon-galon yang kami bawa, kami cuci semua piring kotor, lalu kami masuk ke dalam hutan untuk ke kolam air mancur itu. Saat kami tiba di kolam air mancur itu, mereka juga begitu senang dan ingin segera masuk ke dalam kolam untuk mandi. Akhirnya, kami buka pakaian kami dan kami mulai masuk ke dalam kolam itu. Kami berfoto-foto, video, dan pastinya menikmati segarnya air di kolam air macur itu. Kolam itu tidak begitu kotor meskipun tidak terlalu dalam, karna berbatu-batu dan terus mengalir. Tanpa kami sadari hari sudah semakin sore dan gelap (karna didalam hutan jadi matahari juga tertutup pepohonan). Akhirnya kami pulang dengan perasaan yang cukup puas. Dan jalan yang kami masuki dari tempat pengambilan air didepan sampai ke kolam air mancur itu seperti gerbang berdinding. Dindingnya terbuat dari bebatuan dan lumayan menarik bagi saya. Jadi sepanjang perjalanan keluar dari area kolam, kami mencari-cari dinding yang menarik buat spot foto untuk berfoto-foto. Setelah tiba diluar, kami naik ke perahu dan kembali ke Kampung Gaguop. Keesokan harinya, karna kali banjir besar, Ibu Neila, Pak Edi, Daniel, dan Paulus berangkat ke Kampung Burunggop (Kunjungan sekaligus mengantarkan Daniel kembali ke tempat tugasnya) dengan menggunakan viber (perahu 2 mesin 40 pk). Siang menjelang sore, saya mengajak Amrin ke Kolam air mancur itu untuk mandi, karna sebelumnya dia tidak jadi ikut mandi disana (Sementara Pak Mulyawan stay di rumah, Allo dan Kak Annette ada kesibukan lain). Kami ambil perahu dayung, kami dayung menuju ke lokasi. Setelah dekat lokasi, ternyata tim dari Kampung Burunggop sudah kembali. Akhirnya kami mandi di kali digoel tepat dibawah tempat pengambilan air masak (tidak sempat masuk ke dalam hutan ke kolam air mancur) dan segera kembali ke Kampung Gaguop, karna kami harus melanjutkan perjalanan hari itu juga.
Kolam Air Mancur di Kampung Gaguop
Perahu Viber (Perahu 2 mesin 40 pk) yang kami gunakan sebagai transportasi




Komentar
Posting Komentar