Cerita di Tanah Papua Chapter 3
Chapter 3
Pada awal tahun di Bulan Januari kami libur Tahun Baru sampai tanggal 11 Januari 2019. Rencananya kami mulai belajar pada tanggal 14 Januari 2019, tetapi karna ada seorang warga yang meninggal dunia akhirnya kami tunda kegiatan belajar mengajar. Kami mulai aktif belajar kembali pada tanggal 21 Januari 2019.
Kemudian pada tanggal 18 Februari 2019, saya turun ke Kabupaten untuk membeli bahan makanan. Di Kabupaten, pastori gereja tempat kami tinggal sedang dalam proses renovasi, jadi kami pergi mencari kost baru dan dapat di belakang Kantor Klasis GKI. Dan setelah saya kembali ke Kampung, kami melanjutkan kegiatan belajar mengajar.
Pada tanggal 31 Maret 2019 saya turun ke Kabupaten untuk membeli bahan makanan. Di Kabupaten, pada tanggal 01 April 2019 terjadi perselisihan yang sangat serius antara suku asli Papua dengan salah satu suku pendatang (hingga merenggut nyawa) dan hal itu berhubungan dengan pemilik kost kami (TKP) sampai rumah pemilik kost kami dibakar habis oleh pihak suku asli. Akibat dari kejadian itu, muncul berita kost-kostan kami adalah target berikutnya, jadi malam itu kami harus mengungsi sementara ke rumah Bendahara Klasis GKI bersama Ketua Klasis GKI yang tinggal di Kantor Klasis GKI. Keesokan harinya pada tanggal 02 April 2019 kami mencari kost baru tetapi tidak dapat, akhirnya malamnya kami mengungsi lagi ke tempat lain, tempat salah seorang warga jemaat GKI yang bernama Bpk. Daniel Luji. Karna masalah tersebut cukup serius, akhirnya Bpk. Daniel Luji mengajak kami supaya tinggal dirumahnya saja, sehingga keesokan harinya tanggal 03 April 2019 kami ambil semua barang kami dari kost dan pindah ke rumah Bpk. Daniel Luji.
Saat itu, saya mengalami sakit perut yang lumayan serius. Awalnya saya kira hanya sakit perut biasa. Tetapi karna sakit perut itu berkepanjangan sampai sekitar 1 minggu kemudian, maka saya periksa ke Dokter dan Dokter mengatakan bahwa sebenarnya harus test USG tetapi karna listrik tidak stabil jadi hanya diberi obat saja. Tadinya saya mau langsung kembali ke Kampung tugas esok harinya (karna saya berpikir pasti akan membaik), tetapi karna ternyata keberangkatan dibatalkan oleh supir longboatnya dan ditunda hingga esok harinya, akhirnya hari itu saya langsung ke Dokter lagi dan minta test USG dan Puji Tuhan listrik stabil pada saat itu. Dan hasil test ditemukan penyakit yang cukup serius (Peradangan Usus Akut/Fistula Umbilikus) dan memang harus dioperasi. Kemudian kami ke rumah sakit Boven Digoel tapi Dokter Bedahnya sedang ke luar kota. Akhirnya saya dirujuk untuk operasi di Rumah Sakit Jayapura.
Pada tanggal 14 April 2019 saya langsung berangkat ke Jayapura. Sesampainya di Bandara Sentani, saya dijemput Kepala Kantor Perwakilan LAI Jayapura (Kak Melvy Alfons) dan langsung dibawa ke RSUD Dok 2 Jayapura. Tetapi karna itu hari Minggu, jadi bagian Poli Bedah libur, jadi saya tidak bisa konsultasi ke Dokter Bedahnya. Saat itu, karna perjalanan dari Sentani ke Kota Jayapura menempuh waktu yang lumayan lama sekitar 1 jam, akhirnya saya menginap di Hotel dekat RSUD Dok 2 Jayapura. Keesokan harinya, tanggal 15 April 2019 saya kembali ke RSUD Dok 2 Jayapura buat konsultasi dengan Dokter Bedah bermodalkan surat rekomendasi dari Rumah Sakit Boven Digoel untuk proses registrasi. Dan setelah diperiksa, dikatakan ada terjadi infeksi diperut saya, jadi saya diberi obat untuk 1 minggu ke depan. Karna selama 1 minggu saya harus menunggu masa pemulihan dari infeksi tersebut, akhirnya saya tidak tinggal di hotel lagi tetapi saya tinggal di Sentani, di rumah Kepala Kantor Perwakilan LAI Jayapura. Belum genap 1 Minggu, cairan infeksi saya mulai keluar dari pusar saya, akhirnya saya dilarikan ke Rumah Sakit untuk pembersihan cairan infeksi tersebut.
Pada tanggal 24 April 2019, saya kembali ke Rumah Sakit untuk kontrol sesuai jadwal sebelumnya dan setelah itu Dokter merekomendasikan saya untuk langsung masuk rawat inap. Awalnya Dokternya sudah membuat jadwal operasi segera, tetapi karna ada kendala akhirnya beberapa kali ditunda dan akhirnya pada tanggal 30 April 2019 saya di operasi. Pasca operasi, saya masih rawat inap selama 1 minggu. Selama saya di Rumah Sakit, saya dibantu oleh Bang/Kak Ligawan Pasaribu (rekan dari Kantor Perwakilan LAI Jayapura). Jadi dari awal proses registrasi, selama rawat inap, hingga selesai dan keluar Rumah Sakit, beliau sangat berkontribusi atas perawatan dan kesembuhan saya (bahkan beliau menjaga saya selama saya rawat inap - Terimakasih Bang Ligawan). Pada tanggal 07 Mei 2019 saya keluar dari RSUD Dok 2 Jayapura dan kontrol rawat jalan dan dokter menyarankan untuk istirahat selama 3-6 bulan bahkan kalau bisa 1 tahun.
Saya melakukan rawat jalan dari Sentani ke Kota Jayapura selama hampir 1 bulan. Dan selama proses itu, kadangkala saya disediakan travel buat transportasi saya, dan kadangkala saya berangkat dan pulang bersama Kepala Kantor Perwakilan LAI Jayapura. Dan setiap saya pergi bersama beliau, beliau selalu membawa saya keliling Kota Jayapura untuk menghibur saya (refreshing - biar gak bosan kata beliau), karna selama saya dirumah juga tidak bisa terlalu banyak bergerak kemana-kemana pasca operasi. Dan karna setiap 2-3 hari perban saya harus diganti, akhirnya saya disediakan perawat. Sehingga setiap tiba hari penggantian perban, perawat tersebut akan datang ke rumah dan mengganti perban saya. Saya bersyukur sekali beliau sekeluarga sangat baik sekali kepada saya dan selalu menyediakan kebutuhan saya.
Pada tanggal 04 Juni 2019, saya kembali ke Kabupaten Boven Digoel. Dan saya akan melanjutkan tugas saya kembali ke Kampung Ugo pada bulan Juli 2019. Karna saya rasa istirahat 2 bulan sudah cukup buat saya, dan karena warga belajar perlu saya untuk ada di sana (begitulah pemikiran saya). Akhirnya, setelah saya tiba di Kabupaten Boven Digoel saya memanfaatkan waktu saya untuk beristirahat selama hampir 1 bulan tersebut.
Di masa istirahat saya, beberapa rekan dari pedalaman turun ke Kabupaten untuk membeli bahan makanan. Mereka tiba di waktu yang berbeda namun hanya berselisih beberapa hari saja. Mereka adalah Pak Edi, Daniel Subyakto, dan Alowisius Kalli.
Pada awal tahun di Bulan Januari kami libur Tahun Baru sampai tanggal 11 Januari 2019. Rencananya kami mulai belajar pada tanggal 14 Januari 2019, tetapi karna ada seorang warga yang meninggal dunia akhirnya kami tunda kegiatan belajar mengajar. Kami mulai aktif belajar kembali pada tanggal 21 Januari 2019.
Kemudian pada tanggal 18 Februari 2019, saya turun ke Kabupaten untuk membeli bahan makanan. Di Kabupaten, pastori gereja tempat kami tinggal sedang dalam proses renovasi, jadi kami pergi mencari kost baru dan dapat di belakang Kantor Klasis GKI. Dan setelah saya kembali ke Kampung, kami melanjutkan kegiatan belajar mengajar.
Pada tanggal 31 Maret 2019 saya turun ke Kabupaten untuk membeli bahan makanan. Di Kabupaten, pada tanggal 01 April 2019 terjadi perselisihan yang sangat serius antara suku asli Papua dengan salah satu suku pendatang (hingga merenggut nyawa) dan hal itu berhubungan dengan pemilik kost kami (TKP) sampai rumah pemilik kost kami dibakar habis oleh pihak suku asli. Akibat dari kejadian itu, muncul berita kost-kostan kami adalah target berikutnya, jadi malam itu kami harus mengungsi sementara ke rumah Bendahara Klasis GKI bersama Ketua Klasis GKI yang tinggal di Kantor Klasis GKI. Keesokan harinya pada tanggal 02 April 2019 kami mencari kost baru tetapi tidak dapat, akhirnya malamnya kami mengungsi lagi ke tempat lain, tempat salah seorang warga jemaat GKI yang bernama Bpk. Daniel Luji. Karna masalah tersebut cukup serius, akhirnya Bpk. Daniel Luji mengajak kami supaya tinggal dirumahnya saja, sehingga keesokan harinya tanggal 03 April 2019 kami ambil semua barang kami dari kost dan pindah ke rumah Bpk. Daniel Luji.
Saat itu, saya mengalami sakit perut yang lumayan serius. Awalnya saya kira hanya sakit perut biasa. Tetapi karna sakit perut itu berkepanjangan sampai sekitar 1 minggu kemudian, maka saya periksa ke Dokter dan Dokter mengatakan bahwa sebenarnya harus test USG tetapi karna listrik tidak stabil jadi hanya diberi obat saja. Tadinya saya mau langsung kembali ke Kampung tugas esok harinya (karna saya berpikir pasti akan membaik), tetapi karna ternyata keberangkatan dibatalkan oleh supir longboatnya dan ditunda hingga esok harinya, akhirnya hari itu saya langsung ke Dokter lagi dan minta test USG dan Puji Tuhan listrik stabil pada saat itu. Dan hasil test ditemukan penyakit yang cukup serius (Peradangan Usus Akut/Fistula Umbilikus) dan memang harus dioperasi. Kemudian kami ke rumah sakit Boven Digoel tapi Dokter Bedahnya sedang ke luar kota. Akhirnya saya dirujuk untuk operasi di Rumah Sakit Jayapura.
Pada tanggal 14 April 2019 saya langsung berangkat ke Jayapura. Sesampainya di Bandara Sentani, saya dijemput Kepala Kantor Perwakilan LAI Jayapura (Kak Melvy Alfons) dan langsung dibawa ke RSUD Dok 2 Jayapura. Tetapi karna itu hari Minggu, jadi bagian Poli Bedah libur, jadi saya tidak bisa konsultasi ke Dokter Bedahnya. Saat itu, karna perjalanan dari Sentani ke Kota Jayapura menempuh waktu yang lumayan lama sekitar 1 jam, akhirnya saya menginap di Hotel dekat RSUD Dok 2 Jayapura. Keesokan harinya, tanggal 15 April 2019 saya kembali ke RSUD Dok 2 Jayapura buat konsultasi dengan Dokter Bedah bermodalkan surat rekomendasi dari Rumah Sakit Boven Digoel untuk proses registrasi. Dan setelah diperiksa, dikatakan ada terjadi infeksi diperut saya, jadi saya diberi obat untuk 1 minggu ke depan. Karna selama 1 minggu saya harus menunggu masa pemulihan dari infeksi tersebut, akhirnya saya tidak tinggal di hotel lagi tetapi saya tinggal di Sentani, di rumah Kepala Kantor Perwakilan LAI Jayapura. Belum genap 1 Minggu, cairan infeksi saya mulai keluar dari pusar saya, akhirnya saya dilarikan ke Rumah Sakit untuk pembersihan cairan infeksi tersebut.
Pada tanggal 24 April 2019, saya kembali ke Rumah Sakit untuk kontrol sesuai jadwal sebelumnya dan setelah itu Dokter merekomendasikan saya untuk langsung masuk rawat inap. Awalnya Dokternya sudah membuat jadwal operasi segera, tetapi karna ada kendala akhirnya beberapa kali ditunda dan akhirnya pada tanggal 30 April 2019 saya di operasi. Pasca operasi, saya masih rawat inap selama 1 minggu. Selama saya di Rumah Sakit, saya dibantu oleh Bang/Kak Ligawan Pasaribu (rekan dari Kantor Perwakilan LAI Jayapura). Jadi dari awal proses registrasi, selama rawat inap, hingga selesai dan keluar Rumah Sakit, beliau sangat berkontribusi atas perawatan dan kesembuhan saya (bahkan beliau menjaga saya selama saya rawat inap - Terimakasih Bang Ligawan). Pada tanggal 07 Mei 2019 saya keluar dari RSUD Dok 2 Jayapura dan kontrol rawat jalan dan dokter menyarankan untuk istirahat selama 3-6 bulan bahkan kalau bisa 1 tahun.
Saya melakukan rawat jalan dari Sentani ke Kota Jayapura selama hampir 1 bulan. Dan selama proses itu, kadangkala saya disediakan travel buat transportasi saya, dan kadangkala saya berangkat dan pulang bersama Kepala Kantor Perwakilan LAI Jayapura. Dan setiap saya pergi bersama beliau, beliau selalu membawa saya keliling Kota Jayapura untuk menghibur saya (refreshing - biar gak bosan kata beliau), karna selama saya dirumah juga tidak bisa terlalu banyak bergerak kemana-kemana pasca operasi. Dan karna setiap 2-3 hari perban saya harus diganti, akhirnya saya disediakan perawat. Sehingga setiap tiba hari penggantian perban, perawat tersebut akan datang ke rumah dan mengganti perban saya. Saya bersyukur sekali beliau sekeluarga sangat baik sekali kepada saya dan selalu menyediakan kebutuhan saya.
Pada tanggal 04 Juni 2019, saya kembali ke Kabupaten Boven Digoel. Dan saya akan melanjutkan tugas saya kembali ke Kampung Ugo pada bulan Juli 2019. Karna saya rasa istirahat 2 bulan sudah cukup buat saya, dan karena warga belajar perlu saya untuk ada di sana (begitulah pemikiran saya). Akhirnya, setelah saya tiba di Kabupaten Boven Digoel saya memanfaatkan waktu saya untuk beristirahat selama hampir 1 bulan tersebut.
Di masa istirahat saya, beberapa rekan dari pedalaman turun ke Kabupaten untuk membeli bahan makanan. Mereka tiba di waktu yang berbeda namun hanya berselisih beberapa hari saja. Mereka adalah Pak Edi, Daniel Subyakto, dan Alowisius Kalli.
Bandar Udara Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel
Rumah Bapak Daniel Luji
Pesawat Trigana Air
Rumah Kak Melvy Alfons di Belakang GKI Solafide Sereh, Sentani, Kabupaten Jayapura




Komentar
Posting Komentar