Cerita di Tanah Papua Chapter 5
Chapter 5
Menjelang akhir bulan September saya baru tau kalau saya bisa mendapatkan jaringan telpon di Kampung Ugo, tetapi harus naik ke atas Bukit terlebih dahulu. Dan setelah naik ke bukit, harus naik ke atas pohon lagi yang tingginya sekitar 15-20 meter. Setelah itu, saya selalu berusaha mencari info terbaru tentang Evaluasi dan Penutupan Program dengan bolak balik naik turun bukit dan pohon itu. Kemudian saya dapat info dari rekan saya Anderias Baga dari Kampung Wanggemalo bahwa Evaluasi diundur yang awalnya pada akhir minggu pertama atau awal minggu kedua bulan Oktober dan Penutupan dilakukan pada tanggal 22 Oktober 2019, berubah Evaluasi menjadi tanggal 22 Oktober 2019 dan Penutupan pada tanggal 05 November 2019. Dan saat itu, ketika saya hendak mengajar, saya memasak air panas untuk membuat minuman (kopi) buat warga belajar dewasa tetapi karna pancinya licin, akhirnya saya tersiram air panas mulai dari paha sampai ke kaki paling bawah, sehingga saya harus turun ke Kabupaten untuk berobat.
Setelah merasa pulih, saya kembali ke Kampung, tetapi karena air surut, akhirnya saya harus menggunakan alternatif lain. Saya menggunakan pesawat kecil menuju ke Distrik Bomakia (karna lebih murah daripada jalur darat yang harus lewat jalur air kemudian sambung lagi dengan naik ojek), baru kemudian setelah sampai di Distrik Bomakia, lanjut lagi dengan menggunakan ojek ke Kampung Wanggemalo, Distrik Kombay. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, dari Bomakia kalau kita menuju ke Kampung Wanggemalo, saya harus melewati Kampung Uni, Kampung Dema kemudian tiba di Kampung Wanggemalo dan bermalam di sana. Keesokan harinya saya melanjutkan perjalanan menuju ke Kampung Ugo dengan berjalan kaki. Setelah sampai, saya melakukan aktivitas seperti biasa (pagi-siang mengajar di sekolah, siang-sore mengajar warga belajar dewasa). Kemudian pada akhir Oktober 2019, tim evaluasi sampai di Kampung Ugo pada waktu dini hari sekitar jam 01.30 WIT karena kondisi air sangat kering, sehingga mereka harus dorong-dorong perahu. Dan pagi harinya mereka memberikan ujian evaluasi pada warga belajar yang ada.
Selanjutnya, pada tanggal 31 Oktober 2019, rombongan dari Kampung Dema dan Kampung Wanggemalo sudah tiba di Kampung Ugo (supaya berangkat bersama-sama ke Distrik Manggelum untuk mengikuti Penutupan Program PBA Boven Digoel). Tetapi karena keesokan harinya masih belum ada long boat untuk kami pakai ke Distrik Manggelum, akhirnya saya harus turun ke Kabupaten mencari long boat untuk mengantar kami. Ditengah perjalanan hujan deras, sehingga kami (saya dan driver beserta anggotanya) basah kuyup. Saat tiba di Distrik Kouh, waktu sudah menjelang malam dan hujan sudah reda. Kami singgah sebentar untuk beli beberapa snack buat di perjalanan. Kemudian kami melanjutkan perjalanan kami. Setelah melewati Distrik Kouh hujan deras lagi, sehingga kami harus bermalam di pinggir kali digoel dengan tubuh yang menggigil dan kelaparan karena pakaian kami basah dan 1 harian belum ada makan hanya sedikit snack tadi yang ada. Akhirnya kami membuat api untuk menghangatkan tubuh kami.
Keesokan harinya masih hujan sampai jam 08.30 WIT, kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Kabupaten. Tetapi sebelum kami sampai, kami kehabisan bahan bakar long boat, sehingga kami hanya ikut arus sambil mendayung long boat. Saat sampai di Kabupaten (sekitar jam 11.30 WIT), saya langsung mencari long boat yang bisa kami pakai ke Distrik Manggelum. Jam 13.00 WIT driver menyiapkan semua bahan bakar, makan siang, dan kemudian jam 15.00 WIT kami berangkat ke Kampung Ugo untuk menjemput rombongan yang akan mengikuti acara Penutupan Program PBA. Kami tiba di Kampung sekitar jam 01.30 WIT dini hari tanggal 03 November 2019. Pagi harinya kami Ibadah Raya karna itu adalah hari Minggu, dan setelah selesai Ibadah kami langsung bersiap-siap dan berangkat menuju ke Distrik Manggelum sekitar jam 11.00 WIT. Saat itu, kami yang berangkat ke Distrik Manggelum, termasuk driver berjumlah 37 orang (termasuk anak driver 2 orang) dan kami tiba di Manggelum sekitar jam 19.00 WIT. Pada tanggal 05 November 2019, Penutupan Program PBA dilakukan dari pagi hingga sore hari. Pada tanggal 06 November 2019, karena Penutupan Program PBA sudah selesai, akhirnya kami kembali ke Kampung Ugo. Tetapi karena air surut, akhirnya kami harus bermalam di hutan/pinggir kali lagi dan berharap malamnya hujan. Tetapi karena malam tidak hujan, keesokan harinya, air lebih surut lagi sehingga kami lebih susah lagi mendorong dan menarik perahu.
Setelah sampai di Kampung Ugo, rombongan kembali ke rumah masing-masing, tetapi rombongan dari Kampung Wanggemalo dan Kampung Dema bermalam lagi di Kampung Ugo dan berharap hujan pada malam harinya agar besok paginya mereka bisa naik ketinting ke Pelabuhan Simpang 2. Tetapi karena malam itu tidak hujan, akhirnya keesokan harinya mereka memilih pulang berjalan kaki. Setelah mereka pulang ke kampung masing-masing, saya melanjutkan tugas saya kembali, yaitu mengajari warga belajar cara membuka Alkitab selama sekitar 2-3 Minggu karna tanggal 25 November kami sudah harus turun ke Kabupaten. Dan yang membuat saya semakin terharu banyak anak-anak bahkan orang tua yang menangis saat saya hendak pergi meninggalkan mereka. Bahkan dari beberapa hari sebelumnya mereka bilang, mereka berdoa supaya jangan hujan (supaya saya tidak jadi pulang). Bahkan ada 2 anak yang meminta untuk ikut saya ke tempat saya di luar Papua dengan berkata : "Pak Guru nanti pak guru pulang sa ikut pak guru iyo", "sa juga pak guru iyo", kata yang lain. Bahkan saat selama di Distrik Manggelum saat Penutupan Program PBA, ada 1 orang anak dari Kampung Dema (karena saya lebih dahulu kenal dia/Sefnat daripada anak-anak Kampung Ugo) yang selalu ikut saya kemana saya pergi (jalan keliling Manggelum, pergi mandi ke kali, dll) dan dia bilang : "Pak Guru, nanti sa sama Matius/anak Ugo ikut ke Pak Guru pu kampung iyo". Di situ saya rasanya ingin menangis. Saya ingin sekali membawa mereka, tapi saya masih harus pergi ke beberapa kota (tidak berdiam di 1 kota) dan masih ada juga adik kandung saya yang harus saya urus. Akhirnya saya cuma bisa menjelaskan kalau saya tidak bisa membawa mereka karena alasan yang diatas tadi.
Selain itu dari beberapa hari sebelum saya meninggalkan mereka sampai hari saya pergi, warga banyak yang bolak balik datang ke rumah menyampaikan supaya saya jangan pergi dan berkata: "Pak Guru tidak boleh pergi, kalau pak guru pergi, nanti kami taruh buku, dan pergi ke hutan tidak belajar lagi. Karna anak sendiri tidak bisa diharap", "Pak Guru hidup mati di sini", "Pak Guru boleh pulang buat menikah, tapi setelah itu balik lagi ke sini, bawa pak guru pu mace/istri ke sini, tinggal di sini", "sa pu pak guru o, sayang o", "pak guru o, kenapa ko tipu-tipu kami o, kenapa ko tunjuk muka disini sama kami kalo ko harus pergi tinggalkan kami lagi o", "pak guru, pak guru jangan pergi, karna ada pak guru sa pu anak bisa baca, bisa tulis, bisa naik kelas 2", dan masih banyak lagi. Dan ada juga yang lebih memilih pergi ke dusun karna tidak mau melihat saya pergi. Bahkan pak kepala kampung, setiap ada yang bilang saya sudah mau pulang, dia selalu bilang: "tidak bisa, tidak boleh, dia hidup mati disini di Kombay". Saya sedih tidak bisa berpamitan dengan beliau di hari keberangkatan saya karna beliau ada urusan mendadak beberapa hari sebelum saya berangkat. Dan isteri pertama beliau (karna isterinya ada 2) lebih memilih pergi ke Kampung Wanggemalo karena tidak mau melihat saya pergi. Beliau cuma berpesan ke teman beliau: "kalau pak guru cari saya, bilang saya ke Wanggemalo". Tetapi Puji Tuhan saya bersyukur juga kalau sampai saat ini, warga Kampung Ugo di sana yang sering pergi/ tinggal di Kabupaten masih menghubungi saya. Demikian cerita dan kesaksian saya selama saya ada di wilayah Kabupaten Boven Digoel, Papua.
Untuk edisi hiburan dan liburannya selama di Papua ada di next story yaaa..
Harapan saya,
Yang pertama, mereka tetap antusias untuk terus belajar sampai mereka benar-benar lancar membaca, menulis, berhitung, dan memahami bacaan.
Yang kedua, apa yang saya ajarkan ke mereka, me-rhema dalam hati mereka, berakar, bertumbuh, dan berbuah manis dalam hidup mereka.
Yang ketiga, semoga Program PBA ini terus berjalan sampai ke seluruh pelosok negeri ini, karena kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi?
Tuhan Yesus Memberkati.
Menjelang akhir bulan September saya baru tau kalau saya bisa mendapatkan jaringan telpon di Kampung Ugo, tetapi harus naik ke atas Bukit terlebih dahulu. Dan setelah naik ke bukit, harus naik ke atas pohon lagi yang tingginya sekitar 15-20 meter. Setelah itu, saya selalu berusaha mencari info terbaru tentang Evaluasi dan Penutupan Program dengan bolak balik naik turun bukit dan pohon itu. Kemudian saya dapat info dari rekan saya Anderias Baga dari Kampung Wanggemalo bahwa Evaluasi diundur yang awalnya pada akhir minggu pertama atau awal minggu kedua bulan Oktober dan Penutupan dilakukan pada tanggal 22 Oktober 2019, berubah Evaluasi menjadi tanggal 22 Oktober 2019 dan Penutupan pada tanggal 05 November 2019. Dan saat itu, ketika saya hendak mengajar, saya memasak air panas untuk membuat minuman (kopi) buat warga belajar dewasa tetapi karna pancinya licin, akhirnya saya tersiram air panas mulai dari paha sampai ke kaki paling bawah, sehingga saya harus turun ke Kabupaten untuk berobat.
Setelah merasa pulih, saya kembali ke Kampung, tetapi karena air surut, akhirnya saya harus menggunakan alternatif lain. Saya menggunakan pesawat kecil menuju ke Distrik Bomakia (karna lebih murah daripada jalur darat yang harus lewat jalur air kemudian sambung lagi dengan naik ojek), baru kemudian setelah sampai di Distrik Bomakia, lanjut lagi dengan menggunakan ojek ke Kampung Wanggemalo, Distrik Kombay. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, dari Bomakia kalau kita menuju ke Kampung Wanggemalo, saya harus melewati Kampung Uni, Kampung Dema kemudian tiba di Kampung Wanggemalo dan bermalam di sana. Keesokan harinya saya melanjutkan perjalanan menuju ke Kampung Ugo dengan berjalan kaki. Setelah sampai, saya melakukan aktivitas seperti biasa (pagi-siang mengajar di sekolah, siang-sore mengajar warga belajar dewasa). Kemudian pada akhir Oktober 2019, tim evaluasi sampai di Kampung Ugo pada waktu dini hari sekitar jam 01.30 WIT karena kondisi air sangat kering, sehingga mereka harus dorong-dorong perahu. Dan pagi harinya mereka memberikan ujian evaluasi pada warga belajar yang ada.
Selanjutnya, pada tanggal 31 Oktober 2019, rombongan dari Kampung Dema dan Kampung Wanggemalo sudah tiba di Kampung Ugo (supaya berangkat bersama-sama ke Distrik Manggelum untuk mengikuti Penutupan Program PBA Boven Digoel). Tetapi karena keesokan harinya masih belum ada long boat untuk kami pakai ke Distrik Manggelum, akhirnya saya harus turun ke Kabupaten mencari long boat untuk mengantar kami. Ditengah perjalanan hujan deras, sehingga kami (saya dan driver beserta anggotanya) basah kuyup. Saat tiba di Distrik Kouh, waktu sudah menjelang malam dan hujan sudah reda. Kami singgah sebentar untuk beli beberapa snack buat di perjalanan. Kemudian kami melanjutkan perjalanan kami. Setelah melewati Distrik Kouh hujan deras lagi, sehingga kami harus bermalam di pinggir kali digoel dengan tubuh yang menggigil dan kelaparan karena pakaian kami basah dan 1 harian belum ada makan hanya sedikit snack tadi yang ada. Akhirnya kami membuat api untuk menghangatkan tubuh kami.
Keesokan harinya masih hujan sampai jam 08.30 WIT, kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Kabupaten. Tetapi sebelum kami sampai, kami kehabisan bahan bakar long boat, sehingga kami hanya ikut arus sambil mendayung long boat. Saat sampai di Kabupaten (sekitar jam 11.30 WIT), saya langsung mencari long boat yang bisa kami pakai ke Distrik Manggelum. Jam 13.00 WIT driver menyiapkan semua bahan bakar, makan siang, dan kemudian jam 15.00 WIT kami berangkat ke Kampung Ugo untuk menjemput rombongan yang akan mengikuti acara Penutupan Program PBA. Kami tiba di Kampung sekitar jam 01.30 WIT dini hari tanggal 03 November 2019. Pagi harinya kami Ibadah Raya karna itu adalah hari Minggu, dan setelah selesai Ibadah kami langsung bersiap-siap dan berangkat menuju ke Distrik Manggelum sekitar jam 11.00 WIT. Saat itu, kami yang berangkat ke Distrik Manggelum, termasuk driver berjumlah 37 orang (termasuk anak driver 2 orang) dan kami tiba di Manggelum sekitar jam 19.00 WIT. Pada tanggal 05 November 2019, Penutupan Program PBA dilakukan dari pagi hingga sore hari. Pada tanggal 06 November 2019, karena Penutupan Program PBA sudah selesai, akhirnya kami kembali ke Kampung Ugo. Tetapi karena air surut, akhirnya kami harus bermalam di hutan/pinggir kali lagi dan berharap malamnya hujan. Tetapi karena malam tidak hujan, keesokan harinya, air lebih surut lagi sehingga kami lebih susah lagi mendorong dan menarik perahu.
Setelah sampai di Kampung Ugo, rombongan kembali ke rumah masing-masing, tetapi rombongan dari Kampung Wanggemalo dan Kampung Dema bermalam lagi di Kampung Ugo dan berharap hujan pada malam harinya agar besok paginya mereka bisa naik ketinting ke Pelabuhan Simpang 2. Tetapi karena malam itu tidak hujan, akhirnya keesokan harinya mereka memilih pulang berjalan kaki. Setelah mereka pulang ke kampung masing-masing, saya melanjutkan tugas saya kembali, yaitu mengajari warga belajar cara membuka Alkitab selama sekitar 2-3 Minggu karna tanggal 25 November kami sudah harus turun ke Kabupaten. Dan yang membuat saya semakin terharu banyak anak-anak bahkan orang tua yang menangis saat saya hendak pergi meninggalkan mereka. Bahkan dari beberapa hari sebelumnya mereka bilang, mereka berdoa supaya jangan hujan (supaya saya tidak jadi pulang). Bahkan ada 2 anak yang meminta untuk ikut saya ke tempat saya di luar Papua dengan berkata : "Pak Guru nanti pak guru pulang sa ikut pak guru iyo", "sa juga pak guru iyo", kata yang lain. Bahkan saat selama di Distrik Manggelum saat Penutupan Program PBA, ada 1 orang anak dari Kampung Dema (karena saya lebih dahulu kenal dia/Sefnat daripada anak-anak Kampung Ugo) yang selalu ikut saya kemana saya pergi (jalan keliling Manggelum, pergi mandi ke kali, dll) dan dia bilang : "Pak Guru, nanti sa sama Matius/anak Ugo ikut ke Pak Guru pu kampung iyo". Di situ saya rasanya ingin menangis. Saya ingin sekali membawa mereka, tapi saya masih harus pergi ke beberapa kota (tidak berdiam di 1 kota) dan masih ada juga adik kandung saya yang harus saya urus. Akhirnya saya cuma bisa menjelaskan kalau saya tidak bisa membawa mereka karena alasan yang diatas tadi.
Selain itu dari beberapa hari sebelum saya meninggalkan mereka sampai hari saya pergi, warga banyak yang bolak balik datang ke rumah menyampaikan supaya saya jangan pergi dan berkata: "Pak Guru tidak boleh pergi, kalau pak guru pergi, nanti kami taruh buku, dan pergi ke hutan tidak belajar lagi. Karna anak sendiri tidak bisa diharap", "Pak Guru hidup mati di sini", "Pak Guru boleh pulang buat menikah, tapi setelah itu balik lagi ke sini, bawa pak guru pu mace/istri ke sini, tinggal di sini", "sa pu pak guru o, sayang o", "pak guru o, kenapa ko tipu-tipu kami o, kenapa ko tunjuk muka disini sama kami kalo ko harus pergi tinggalkan kami lagi o", "pak guru, pak guru jangan pergi, karna ada pak guru sa pu anak bisa baca, bisa tulis, bisa naik kelas 2", dan masih banyak lagi. Dan ada juga yang lebih memilih pergi ke dusun karna tidak mau melihat saya pergi. Bahkan pak kepala kampung, setiap ada yang bilang saya sudah mau pulang, dia selalu bilang: "tidak bisa, tidak boleh, dia hidup mati disini di Kombay". Saya sedih tidak bisa berpamitan dengan beliau di hari keberangkatan saya karna beliau ada urusan mendadak beberapa hari sebelum saya berangkat. Dan isteri pertama beliau (karna isterinya ada 2) lebih memilih pergi ke Kampung Wanggemalo karena tidak mau melihat saya pergi. Beliau cuma berpesan ke teman beliau: "kalau pak guru cari saya, bilang saya ke Wanggemalo". Tetapi Puji Tuhan saya bersyukur juga kalau sampai saat ini, warga Kampung Ugo di sana yang sering pergi/ tinggal di Kabupaten masih menghubungi saya. Demikian cerita dan kesaksian saya selama saya ada di wilayah Kabupaten Boven Digoel, Papua.
Untuk edisi hiburan dan liburannya selama di Papua ada di next story yaaa..
Harapan saya,
Yang pertama, mereka tetap antusias untuk terus belajar sampai mereka benar-benar lancar membaca, menulis, berhitung, dan memahami bacaan.
Yang kedua, apa yang saya ajarkan ke mereka, me-rhema dalam hati mereka, berakar, bertumbuh, dan berbuah manis dalam hidup mereka.
Yang ketiga, semoga Program PBA ini terus berjalan sampai ke seluruh pelosok negeri ini, karena kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi?
Tuhan Yesus Memberkati.
Pohon tempat mencari signal/jaringan telepon
Ketika sudah dipucuk pohon, handphone masih harus diletakkan lebih tinggi lagi (harus hp jadul)
Bersama warga belajar dewasa (Kampung Ugo)
Bersama warga belajar anak (Kampung Ugo)
Penyerahan Alkitab dan Buku Kabar Baik Bergambar kepada Perwakilan kelas anak yang lulus evaluasi (Kampung Ugo, Distrik Kombay, Kab. Boven Digoel)
Penutupan Program PBA Boven Digoel yang dilaksanakan di Distrik Manggelum






Komentar
Posting Komentar