Edisi Hiburan dan Liburan 2
Selama di Chapter 3 di Kabupaten Sentani dan Kota Jayapura, Papua.
Hal pertama yang ingin saya sampaikan adalah ketika saya masih didalam pesawat diatas Sentani dan Jayapura. Saya menyaksikan indahnya alam Papua, dari bukit-bukit yang hijau, danau sentani, dan laut yang indah serta pemandangan tatanan kota yang unik (karna Jayapura adalah daerah berbukit jadi rumah, bangunan, gedung berada pada posisi bertingkat-tingkat mulai dari dasar bukit hingga ke puncak bukit), tiang2 tower yang ada di puncak-puncak bukit, dan pulau-pulau kecil lainnya.
Kemudian, selama di Sentani, Kabupaten Jayapura, Kak Melvy Alfons (Kepala Perwakilan LAI Jayapura) membawa saya jalan-jalan ke beberapa tempat. Pertama, saya di bawa ke lokasi banjir bandang yang belum lama terjadi di Sentani. Saat itu, saya masih menyaksikan banyaknya puing-puing reruntuhan batu besar dan kecil serta bangunan yang ada di sekitar lokasi kejadian. Kedua, menikmati makan malam di KFC. Bayangkan setelah 8 bulan gak pernah melihat gedung-gedung tinggi dan mewah serta brand2 ternama seperti KFC, McD, Pizza Hut, tiba-tiba dibawa ke sana.(finally). Ketiga, pasca operasi saya di ajak ke Gunung Teletubies. Kami ke sana naik mobil hampir ke puncak. Dari situ, naik ke puncaknya harus jalan kaki dan saya sempat ragu apakah saya bisa sampai dipuncak. Karena, dari dasar ke puncak itu jalannya curam sekali sekitar pada kemiringan 70°-80°. Sementara saya belum lama melewati operasi, kalau jatuh akan repot sekali. Tapi ketika hati ini rindu sekali menyaksikan keindahan yang dijelaskan sebelumnya, gairah saya semakin terpacu untuk naik ke atas. Dan akhirnya ketakutan dan lelah itu terbayarkan dengan indahnya pemandangan yang dapat saya saksikan dari atas puncak Gunung Teletubies. (Meskipun ketika turun juga agak kelabakan karna harus extra hati-hati - lebih extream turun daripada naik). Keempat, diajak ikut kunjungan ke GKI di Tanah Papua Klasis Sentani Jemaat Immanuek Ifargunung tempat para Tentara beribadah. Kalau di sana, yang membuat saya kagum adalah lingkungannya (pohon-pohon yang rindang, sangat hijau dan bersih, rapi tersusun, rerumputan yang hijau, bahkan ada kolam-kolamnya yang juga bersih), orang-orangnya - para tentara (ketika mobil kami melewati mereka, mereka memberi hormat - seperti pejabat yang lewat). Selain itu, di gereja itu mereka bukan hanya beribadah setiap hari Minggu, tetapi SETIAP HARI (di tengah-tengah kesibukan mereka setiap harinya, ternyata mereka juga beribadah di Gereja setiap hari). Kagum dengan mereka. Dan kelima, Danau Sentani. Walaupun setiap kami keluar dari area pegunungan cyclop (tempat kami tinggal) kami pasti melewati danau ini, tapi tetap saja rasanya danau ini indah. Walaupun tak seindah sebelum dilanda banjir bandang, tapi ketika melewati danau ini selalu seolah-olah menyaksikan laut. Selain itu, selama saya tinggal di rumah kak Melvy Alfons, saya dapat menikmati indahnya pemandangan pegunungan cyclop, dan segarnya udara yang ada di sana. Setiap saya bosan didalam kamar, saya selalu keluar untuk menghirup udara segar sambil menikmati keindahan pegunungan cyclop tersebut.
Selanjutnya, selama di Kota Jayapura. Saya ke Kota Jayapura setiap kontrol pasca operasi. Selesai kontrol, saya ikut ke Kantor LAI. Ketika saya merasa bosan, saya naik ke lantai 3 dan istirahat sambil mendengarkan musik atau pergi ke tepi pantai ataupun pergi ke mall. Dan setelah tiba jam pulang kantor, saya kembali ke kantor (karna saya ikut pulang dengan kak Melvy). Suatu kali, saat saya bosan di lntai 3 sendirian, saya memutuskan turun kelantai dasar dan keluar dari kantor dan pergi berjalan kaki ke pantai (karna posisi pantai tidak jauh dari kantor). Di waktu yang lain, saya pergi naik angkot ke mall. Dan diwaktu yang lain lagi, sepulang dari kantor saya dibawa ke suatu tempat yang sangat menarik. Nama tempat itu adalah Bukit Jokowi yang terletak di Skyline, Jayapura. Itu merupakan sejenis tempat wisata. Di sana saya berfoto-foto karna tempat itu sangat menarik. Dari puncak bukit ini, ada cafe yang sekelilingnya didesain sedemikian indah, dan selain itu saya bisa langsung melihat indahnya pemandangan laut, serta sebagian bangunan kota dan jembatan yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. Setelah itu, saya juga di ajak turun ke bawah untuk menikmati es kelapa muda dan bakso (sambil menikmati pemandangan laut. WOW. Kemudian, di waktu yang lain setelah selesai kontrol dan pulang kerja, saya diajak ke Puncak Jayapura City. Tempat ini benar-benar berada di puncak Kota Jayapura. Jauh lebih tinggi dari Bukit Jokowi tadi dan jalanannya sangat terjal dan cukup extream menuut saya. Tetapi saat berada di Puncak, saya bisa menyaksikan seluruh tatanan Kota Jayapura. Setiap lekukan bukit dan bangunan dapat terlihat. Sungguh indah pemandangan-pemandangan yang ada di Kota Jayapura. Dan disekitar Puncak Jayapura ini terdapat pemancar-pemancar stasiun televisi yang ada seperti SCTV, TransTV, Indosiar, dll.
Sebenarnya masih ada 2 tempat yang belum sempat saya datangi saat itu, Kak Melvy sempat mengajak jalan-jalan ke tempat-tempat itu, tetapi waktu nya tidak sempat. Tempat-tempat itu adalah Jembatan Holtekamp yang diresmikan Bapak Presiden Joko Widodo (yang berada di atas Teluk Youtefa), dan Patung Yesus Wali Holelo yang setinggi 3.5 meter dan terletak di tengah Danau Sentani di atas perahu sedang memegang Alkitab.
Masih di Chapter 3 setelah kembali ke Kabupaten Boven Digoel, Papua.
Sebelumnya saya sudah sampaikan bahwa beberapa waktu setelah saya sudah kembali ke Kabupaten Boven Digoel, beberapa rekan saya datang dari kampung tugas (Pak Edi, Daniel Subyakto, dan Alowisius Kalli). Setelah kami pertimbangkan waktu ataupun moment yang begitu terbatas, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Perbatasan antara Negara Indonesia dan Papua New Guinea (NKRI-PNG). Tepatnya hari Minggu, 08 Juli 2019 kami berangkat.
Awalnya kami berniat datang ke Titik Patok ini berada (Patok Perbatasan Indonesia & Papua New Guinea). Tetapi semua rencana kami tidak terlaksana karena Situasi dan kondisi tidak memungkinkan.
Hal ini dikarenakan beberapa kondisi diantaranya: Yang pertama, Info yang kami dengar perjalanannya 4 jam naik motor + 5 km jalan kaki. Kemudian yang kedua, realitanya berbeda sekali, dimana naik motor sekitar 6 jam + jalan kaki 12 km (5 km jalan kaki baru sampai kampung ujung Indonesia, menyeberang Kali Muyu, lanjut jalan kaki lagi 7 km setelah menyeberang kali sampai titik Patok/Tugu Perbatasan RI-PNG). Yang ketiga, kami berangkat hari Minggu jam 12 siang setelah pulang Gereja dan tiba di Pos Nienatie SatGas PamTas RI-PNG Yonif 143/Twej yang saat itu di jaga oleh Batalyon Garuda Hitam (Sumatera yang berpusat di Lampung) pada pukul 18.00 WIT. Yang keempat, rencananya kami akan mulai jalan kaki dari pagi sekitar jam 6 atau 7 WIT, tetapi ternyata hujan dari subuh sampai sekitar jam 09.30 WIT. Dan yang kelima, jalanan semakin hancur dan berlumpur. Karena kami harus standby di Kabupaten Boven Digoel hari Selasa (10 Juli 2019), akhirnya kami membatalkan rencana kami ke Patok Perbatasan RI-PNG dan memilih kembali ke Kabupaten Boven Digoel, Papua.
Tetapi sebelum kami kembali, kami menyempatkan diri berfoto-foto di sekitar Pos Ninatie tersebut. Jadi, meskipun tidak jadi sampai di Patok/Tugu Perbatasan RI-PNG dan hanya sampai di Pos Nienatie SatGas PamTas RI-PNG Yonif 143/Twej tapi harus tetap tersenyum & bahagia. Karna bahagia itu sederhana dan kita sendiri yang tentukan.
Hal pertama yang ingin saya sampaikan adalah ketika saya masih didalam pesawat diatas Sentani dan Jayapura. Saya menyaksikan indahnya alam Papua, dari bukit-bukit yang hijau, danau sentani, dan laut yang indah serta pemandangan tatanan kota yang unik (karna Jayapura adalah daerah berbukit jadi rumah, bangunan, gedung berada pada posisi bertingkat-tingkat mulai dari dasar bukit hingga ke puncak bukit), tiang2 tower yang ada di puncak-puncak bukit, dan pulau-pulau kecil lainnya.
Kemudian, selama di Sentani, Kabupaten Jayapura, Kak Melvy Alfons (Kepala Perwakilan LAI Jayapura) membawa saya jalan-jalan ke beberapa tempat. Pertama, saya di bawa ke lokasi banjir bandang yang belum lama terjadi di Sentani. Saat itu, saya masih menyaksikan banyaknya puing-puing reruntuhan batu besar dan kecil serta bangunan yang ada di sekitar lokasi kejadian. Kedua, menikmati makan malam di KFC. Bayangkan setelah 8 bulan gak pernah melihat gedung-gedung tinggi dan mewah serta brand2 ternama seperti KFC, McD, Pizza Hut, tiba-tiba dibawa ke sana.(finally). Ketiga, pasca operasi saya di ajak ke Gunung Teletubies. Kami ke sana naik mobil hampir ke puncak. Dari situ, naik ke puncaknya harus jalan kaki dan saya sempat ragu apakah saya bisa sampai dipuncak. Karena, dari dasar ke puncak itu jalannya curam sekali sekitar pada kemiringan 70°-80°. Sementara saya belum lama melewati operasi, kalau jatuh akan repot sekali. Tapi ketika hati ini rindu sekali menyaksikan keindahan yang dijelaskan sebelumnya, gairah saya semakin terpacu untuk naik ke atas. Dan akhirnya ketakutan dan lelah itu terbayarkan dengan indahnya pemandangan yang dapat saya saksikan dari atas puncak Gunung Teletubies. (Meskipun ketika turun juga agak kelabakan karna harus extra hati-hati - lebih extream turun daripada naik). Keempat, diajak ikut kunjungan ke GKI di Tanah Papua Klasis Sentani Jemaat Immanuek Ifargunung tempat para Tentara beribadah. Kalau di sana, yang membuat saya kagum adalah lingkungannya (pohon-pohon yang rindang, sangat hijau dan bersih, rapi tersusun, rerumputan yang hijau, bahkan ada kolam-kolamnya yang juga bersih), orang-orangnya - para tentara (ketika mobil kami melewati mereka, mereka memberi hormat - seperti pejabat yang lewat). Selain itu, di gereja itu mereka bukan hanya beribadah setiap hari Minggu, tetapi SETIAP HARI (di tengah-tengah kesibukan mereka setiap harinya, ternyata mereka juga beribadah di Gereja setiap hari). Kagum dengan mereka. Dan kelima, Danau Sentani. Walaupun setiap kami keluar dari area pegunungan cyclop (tempat kami tinggal) kami pasti melewati danau ini, tapi tetap saja rasanya danau ini indah. Walaupun tak seindah sebelum dilanda banjir bandang, tapi ketika melewati danau ini selalu seolah-olah menyaksikan laut. Selain itu, selama saya tinggal di rumah kak Melvy Alfons, saya dapat menikmati indahnya pemandangan pegunungan cyclop, dan segarnya udara yang ada di sana. Setiap saya bosan didalam kamar, saya selalu keluar untuk menghirup udara segar sambil menikmati keindahan pegunungan cyclop tersebut.
Selanjutnya, selama di Kota Jayapura. Saya ke Kota Jayapura setiap kontrol pasca operasi. Selesai kontrol, saya ikut ke Kantor LAI. Ketika saya merasa bosan, saya naik ke lantai 3 dan istirahat sambil mendengarkan musik atau pergi ke tepi pantai ataupun pergi ke mall. Dan setelah tiba jam pulang kantor, saya kembali ke kantor (karna saya ikut pulang dengan kak Melvy). Suatu kali, saat saya bosan di lntai 3 sendirian, saya memutuskan turun kelantai dasar dan keluar dari kantor dan pergi berjalan kaki ke pantai (karna posisi pantai tidak jauh dari kantor). Di waktu yang lain, saya pergi naik angkot ke mall. Dan diwaktu yang lain lagi, sepulang dari kantor saya dibawa ke suatu tempat yang sangat menarik. Nama tempat itu adalah Bukit Jokowi yang terletak di Skyline, Jayapura. Itu merupakan sejenis tempat wisata. Di sana saya berfoto-foto karna tempat itu sangat menarik. Dari puncak bukit ini, ada cafe yang sekelilingnya didesain sedemikian indah, dan selain itu saya bisa langsung melihat indahnya pemandangan laut, serta sebagian bangunan kota dan jembatan yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. Setelah itu, saya juga di ajak turun ke bawah untuk menikmati es kelapa muda dan bakso (sambil menikmati pemandangan laut. WOW. Kemudian, di waktu yang lain setelah selesai kontrol dan pulang kerja, saya diajak ke Puncak Jayapura City. Tempat ini benar-benar berada di puncak Kota Jayapura. Jauh lebih tinggi dari Bukit Jokowi tadi dan jalanannya sangat terjal dan cukup extream menuut saya. Tetapi saat berada di Puncak, saya bisa menyaksikan seluruh tatanan Kota Jayapura. Setiap lekukan bukit dan bangunan dapat terlihat. Sungguh indah pemandangan-pemandangan yang ada di Kota Jayapura. Dan disekitar Puncak Jayapura ini terdapat pemancar-pemancar stasiun televisi yang ada seperti SCTV, TransTV, Indosiar, dll.
Sebenarnya masih ada 2 tempat yang belum sempat saya datangi saat itu, Kak Melvy sempat mengajak jalan-jalan ke tempat-tempat itu, tetapi waktu nya tidak sempat. Tempat-tempat itu adalah Jembatan Holtekamp yang diresmikan Bapak Presiden Joko Widodo (yang berada di atas Teluk Youtefa), dan Patung Yesus Wali Holelo yang setinggi 3.5 meter dan terletak di tengah Danau Sentani di atas perahu sedang memegang Alkitab.
Masih di Chapter 3 setelah kembali ke Kabupaten Boven Digoel, Papua.
Sebelumnya saya sudah sampaikan bahwa beberapa waktu setelah saya sudah kembali ke Kabupaten Boven Digoel, beberapa rekan saya datang dari kampung tugas (Pak Edi, Daniel Subyakto, dan Alowisius Kalli). Setelah kami pertimbangkan waktu ataupun moment yang begitu terbatas, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Perbatasan antara Negara Indonesia dan Papua New Guinea (NKRI-PNG). Tepatnya hari Minggu, 08 Juli 2019 kami berangkat.
Awalnya kami berniat datang ke Titik Patok ini berada (Patok Perbatasan Indonesia & Papua New Guinea). Tetapi semua rencana kami tidak terlaksana karena Situasi dan kondisi tidak memungkinkan.
Hal ini dikarenakan beberapa kondisi diantaranya: Yang pertama, Info yang kami dengar perjalanannya 4 jam naik motor + 5 km jalan kaki. Kemudian yang kedua, realitanya berbeda sekali, dimana naik motor sekitar 6 jam + jalan kaki 12 km (5 km jalan kaki baru sampai kampung ujung Indonesia, menyeberang Kali Muyu, lanjut jalan kaki lagi 7 km setelah menyeberang kali sampai titik Patok/Tugu Perbatasan RI-PNG). Yang ketiga, kami berangkat hari Minggu jam 12 siang setelah pulang Gereja dan tiba di Pos Nienatie SatGas PamTas RI-PNG Yonif 143/Twej yang saat itu di jaga oleh Batalyon Garuda Hitam (Sumatera yang berpusat di Lampung) pada pukul 18.00 WIT. Yang keempat, rencananya kami akan mulai jalan kaki dari pagi sekitar jam 6 atau 7 WIT, tetapi ternyata hujan dari subuh sampai sekitar jam 09.30 WIT. Dan yang kelima, jalanan semakin hancur dan berlumpur. Karena kami harus standby di Kabupaten Boven Digoel hari Selasa (10 Juli 2019), akhirnya kami membatalkan rencana kami ke Patok Perbatasan RI-PNG dan memilih kembali ke Kabupaten Boven Digoel, Papua.
Tetapi sebelum kami kembali, kami menyempatkan diri berfoto-foto di sekitar Pos Ninatie tersebut. Jadi, meskipun tidak jadi sampai di Patok/Tugu Perbatasan RI-PNG dan hanya sampai di Pos Nienatie SatGas PamTas RI-PNG Yonif 143/Twej tapi harus tetap tersenyum & bahagia. Karna bahagia itu sederhana dan kita sendiri yang tentukan.
Komentar
Posting Komentar