Cerita di Tanah Papua Chapter 2

Chapter 2

Setelah kami tiba di Kampung Ugo, saya bersyukur sekali masyarakat di sini merespon dengan sangat baik. Sehari setelah kami tiba, Pimpinan Lapangan saya yaitu Pak Edi mengadakan pertemuan dengan para tutor yang ada di kampung ini, yaitu Pak Guru Amsal Dedemu (Tutor Kelas PBA anak), Bapak Tinus Namburemba (Tutor Kelas PBA orang tua), dan Bapak Agus Seharumba selaku Penginjil (Tutor Kelas PBA orang tua dan sekaligus Koordinator Wilayah/Korwil).

Saat itu, saya juga belajar bagaimana mengatasi para tutor tersebut dalam hal menghadapi setiap sifat dan sikap mereka.

Setelah itu, Pak Edi kembali ke Manggelum tempatnya bertugas, dan saya mulai beraktifitas di Kampung Ugo.

Pertama, yang saya lakukan adalah saya berjalan keliling kampung untuk mengetahui kondisi kampung ini. Di Kampung Ugo ini belum ada listrik untuk setiap rumah, hanya 2-3 rumah saja yang menggunakan solar cell. Sebenarnya di tempat saya tinggal ada solar cell juga, tetapi sudah rusak. Jadi selama saya tinggal di rumah singgah di sini tanpa listrik. Selain itu, di kampung ini sama sekali tidak ada tempat khusus buang air atau yang biasa kita sebut WC/MCK. Sebenarnya ditempat saya tinggal ada WC tapi rusak juga. Di Kampung Ugo juga tidak ada jaringan / sinyal telpon apalagi internet. Dan ternyata di Kampung ini ada satu sekolah SD Negeri yang mana kondisinya semua Guru nya tidak ada di kampung karena mereka pergi ke Kabupaten dan sudah lama tidak kembali ke kampung. Termasuk Pak Guru Amsal, setelah Pak Guru Edi pulang ke Manggelum, Pak Guru Amsal juga langsung pergi ke Kabupaten.

Jadi kondisinya di sekolah tidak ada Guru sama sekali. Akhirnya saya dan Bapak Penginjil yang membantu mengajar di sekolah. Setiap pagi dari hari Senin sampai hari Sabtu saya selalu mengajar di sekolah ini mulai jam 08.00 WIT - 13.00 WIT. Dan sore harinya saya, Bapak Tinus, dan Bapak Penginjil mengajar Kelas PBA orang tua. Dan Bapak Tinus hanya ikut mengajar beberapa hari saja, karena beliau sering pergi berburu. Jadi yang mengajar hanya tinggal saya dan Bapak Penginjil.

Pada tanggal 16 Oktober 2018, saya turun ke Kabupaten Tanah Merah/Boven Digoel (menggunakan transportasi air / speed) untuk membeli persediaan makanan saya yg sudah habis dan tentunya sekalian supaya saya bisa berkomunikasi dengan keluarga saya. Saat saya turun ke Kabupaten, ternyata Bapak Tinus dan keluarganya juga turun. Jadi, tinggal Bapak Penginjil sendiri yang mengajar. Di tengah perjalanan, di Muara kali, kami berhenti sebentar karena di sana ada warga kampung yang sedang membersihkan kali dari kayu-kayu yang melintang yang menghalangi perahu-perahu yang lewat. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan kami. Kemudian kami berhenti lagi di Kampung Kouh untuk mengisi bahan bakar speed yang kami tumpangi. Akhirnya, kami tiba di Kabupaten Boven Digoel/Tanah Merah pada sore hari menjelang malam.

Setelah tiba di Pelabuhan Kabupaten, saat saya hendak menghubungi Pendeta (tempat saya tinggal kalau ke Kabupaten), saya di ajak driver speed (orang Kampung Ugo juga) untuk ikut tinggal di Komplek Warga Ugo di Kilo 2. Akhirnya saya ikut. Saat tiba di Kilo 2, saya bertemu dengan warga Kampung Ugo yang belum pernah bertemu di Kampung dan beberapa sudah bertemu waktu di kampung.

Karena di Kampung Ugo hanya tinggal Bapak Penginjil sendiri yang mengajar, akhirnya malam itu juga saya pergi berbelanja bahan makanan yang harus saya bawa ke kampung karena keesokan harinya pada tanggal 17 Oktober 2018 saya langsung kembali ke Kampung dengan speed yang sama. Dan ternyata setelah kami tiba di Muara kali, pertengahan antara Kabupaten dan Kampung Ugo, airnya agak surut/kering. Jadi kami harus bermalam di pinggir kali di Muara. Malam harinya ada hujan. Akhirnya esok harinya air mulai pasang/naik. Jadi kami langsung berangkat ke kampung.

Setelah tiba di kampung, ternyata warga kampung banyak yang pergi ke dusun dan ke Muara. Dan saat itu Bapak Penginjil dapat kabar kalau anaknya yang sekolah di Merauke sakit keras dan sedang dalam perjalanan dipindahkan ke Kabupaten untuk dirawat di Kabupaten. Jadi Bapak penginjil harus ke Kabupaten untuk melihat kondisi anaknya. Akhirnya, Bapak Penginjil beserta keluarga dan beberapa warga berangkat ke Kabupaten. Dan setelah Bapak Penginjil ke Kabupaten dan warga semua pergi ke dusun dan Muara, kondisi kampung sepi sekali karna hanya tinggal beberapa keluarga saja yang tinggal di kampung yaitu keluarga Bapak Kepala Kampung dan beberapa warga. Keesokan harinya ada pengumuman buat warga yang ada di kampung untuk ikut Kursus Timotius di Kampung Uni (Distrik Bomakia). Jadi, keesokan harinya pada tanggal 20 Oktober 2018, saya ikut jalan kaki ke Kampung Uni bersama beberapa warga kampung yang ada dan beberapa anak Sekolah Minggu. Kami berangkat pagi hari, dan tiba di Dusun Tengah sore hari. Akhirnya kami bermalam di Dusun Tengah (di tengah hutan) dan melanjutkan perjalanan pada esok harinya. Dan kami tiba di Kampung Uni pada sore hari menjelang malam (jadi perjalanan selama 2 hari dengan berjalan kaki). Di sana kami Kursus Timotius selama 4 hari. Setelah itu, kami pulang ke Kampung Ugo lewat jalan yang sama dengan masa perjalanan yang sama juga 2 hari. Kemudian Seninnya, pada tanggal 29 Oktober 2018 ternyata Kursus Timotius diadakan lagi di Kampung Ugo dan Bapak Penginjil kembali dari Kabupaten untuk Acara ini, karena beliau adalah Penanggungjawabnya. Kursus Timotius di Kampung Ugo berlangsung dari tanggal 29 Oktober - 01 November 2018. Setelah Kursus Timotius selesai, keesokan harinya Bapak Penginjil kembali ke Kabupaten. Akhirnya, saya sendiri lagi yang mengajar. Baik di sekolah pada pagi harinya (Senin-Sabtu) maupun di Kelas PBA orang tua di sore harinya (Senin-Kamis). Selama saya mengajar di sekolah, saya banyak sekali belajar untuk menghadapi setiap karakter anak-anak di sini. Karena tidak semua anak-anak mudah diatur, banyak yang masih suka melawan.

Pada tanggal 18 November 2018, saya turun lagi ke Kabupaten Tanah Merah/Boven Digoel (kali ini menggunakan Long Boat bersama warga yang berangkat ke Kabupaten juga) untuk membeli persediaan makanan saya yg sudah habis dan tentunya sekalian supaya saya bisa berkomunikasi dengan keluarga saya. Kali ini saya ditemani oleh 2 murid saya. Setelah kami tiba di Pelabuhan Kabupaten, saya langsung menghubungi Bapak Pendeta Daniel Iha (karena saya bermalam di tempat beliau). Selama saya di Kabupaten, saya segera membeli bahan makanan yang harus saya bawa ke Kampung (sambil menunggu transportasi untuk kembali ke Kampung). Dan selama saya di Kabupaten, saya datang ke komplek-komplek warga Kampung Ugo tinggal di Kabupaten (yaitu di Kilo 2, Kilo 3, Ambonggo 1, dan Ambonggo 2). Pada tanggal 22 November 2018, kami hendak pulang ke kampung, karena sudah ada transportasi (speed). Tetapi setelah kami tiba di Pelabuhan, kami tunggu sampai siang, orang yang harus mengantar kami tidak datang-datang. Dan setelah saya hubungi berkali-kali akhirnya driver mengatakan di cancel dan besok baru berangkat. Sorenya, Pak Edi turun ke Kabupaten dan saya bertemu dengan Pak Edi. Keesokan harinya, saya kembali ke Kampung Ugo. Setelah tiba di kampung, saya melakukan aktifitas seperti biasa (mengajar sendirian).

Proses belajar mengajar berlangsung sampai hari Kamis tanggal 20 Desember 2018. Setelah itu, kami libur Natal 2018 sampai Tahun Baru 2019.

SD Negeri Ugo

Kelas Anak

Kelas Dewasa (orang tua)

Foto bersama anak-anak di Pinggir Kali Kao (Pelabuhan Ugo)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Evaluations Result for Students in Kampung Ugo, Distrik Kombay, Boven Digoel Regency

The Story in Papua - Chapter 2 (English Version)

The Story in Papua - Chapter 5 (English Version)